Chapter 1. Worst day indeed

Bingung ini cerita tentang apa? Coba pergi ke about page.  

Pagi itu seperti biasa Patrick sedang tidur, kamarnya yang berantakan menghiasi apartemennya yang kumuh dan jelek, maklum murahan. Buku dan pakaian bertebaran di mana- mana. Sedang jam weker pun berbunyi sangat keras tanda pukul 07.00, sambil bergumam dalam tidurnya Patrick mengam- bil weker itu dan membantingnya ke arah pukul 02.

Setengah jam kemudian Patrick yang sedang bermimpi nyenyak terguling hingga jatuh dari tempat tidurnya dengan sangat keras, justru hal itulah yang membangunkan dia dari tidurnya. Sambil mengerang kesakitan dia berusaha berdiri dan akhirnya melihat bahwa jam dinding menunjukkan pukul setengah delapan.

“Sial, gue bakalan telat lagi nih”, katanya sambil berjalan terburu-buru.

Dengan secepat kilat dia berlari dan berangkat tanpa sara- pan. “Sigh, aku harus menjalani hari yang berat ini lagi”, gerutunya.

“Gawat, Frank akan memecatku kalau aku terlambat kali ini, dia selalu mencari kesalahanku untuk membuat aku dipecat”. Patrick ingat bahwa sudah banyak masalah yang diperbuatnya di kantor. Satu kesalahan saja bisa membuat runyam karirnya.

Lalu dia mengendarai mobil Ford tahun 2004 miliknya. Ditengah perjalanan ke kantor, tiba-tiba lewatlah seekor lebah melintai jalanan. Lebah itu tertabrak sehingga menyebabkan kaca mobilnya pecah berantakan, Patrick pun kaget dan tidak bisa memandang apapun didepannya, lalu dia menabrak hydrant air yang terpasang di tengah jalan, sehingga hancur, “Buset, kesialan apalagi yang akan menghantui gue ini, semuanya serba sial, apa salah gue sih selama ini?”

Dia pun akhirnya naik taksi menuju kantornya karena mobilnya yg berada dalam kondisi mengenaskan. Sampailah ia akhirnya ke kantornya, walaupun terlambat 28 menit 46 detik, dia masih saja memberanikan diri untuk masuk. Di depan pintu kantornya sudah terdapat barang-barangnya yang sudah siap untuk dibawa pulang. Didalamnya terdapat kartu ucapan dan pesangon.

“Apa-apaan ini?”, tanyanya heran.

Dia pun berlari menuju kantor manajer. “Apa maksud semua ini?”

“Aku kira kau sudah mengambil barang-barang mu dan pergi dari sini”, jawab manajernya.

“Tapi kau tidak berhak berbuat seperti ini kepadaku”.

“Tentu aku berhak,” jawabnya tenang.

“Tapi, tapi apa salahku”, tanya Patrick lagi.

“Itu… itu benar-benar pertanyaan yang sudah aku tunggu- tunggu, silahkan lihat daftar ini!”, suruhnya sambil menyodorkan 10 lembar kertas.

“Apa? daftar kekacauan dan pelanggaran yang aku lakukan? Tak kusangka sebanyak ini”.

“Yah kau benar. Mungkin dulu kau adalah pegawai terbaik yang kami punya, tetapi sejak tiga bulan yang lalu kau menjadi berubah. Sekarang tolong tinggalkan ruanganku dan pergi dari sini”.

“Berikanlah kesempatan sekali lagi, aku berjanji untuk berubah”, mohonnya.

“Yah sayang sekali, sebenarnya hari ini adalah kesempatan terakhir mu, tapi kau malah mengacaukannya, aku sudah tidak bisa berbuat apa-apa lagi, bukankah kau yang sendiri yang mengacaukannya. Sekarang juga aku minta kau pergi dari kantorku sekarang”.

“Tolonglah, aku tidak mempunyai apa-apa lagi, apakah kau tidak mengasihani aku”.

“Tentu saja aku kasihan, makanya aku ingin memberikanmu ini”, sambil menyodorkan amplop yang berisi suatu gepokan.

Patrick pun langsung membukanya dan kaget, “Apa ini semua?” sambil mengeluarkan dan membaca tulisan yang ada disetiap lembaran yang bertuliskan ‘KASIHAN DEH LU’.

“Itu adalah ucapan yang menunjukkan kami semua kasihan kepadamu”.

“Kalian semua memang kejam, lihat saja aku pasti akan membalas semua perbuatan kalian kepadaku”, dendamnya sambil meninggalkan ruangan managernya.

“Lihat saja kalian nanti, aku akan lebih sukses daripada kalian semua”, teriaknya. Patrick kesal karena kartu pengasihan itu datang dari teman-teman kantornya yang biasanya baik kepadanya. Mereka sering meminta bantuan kepada Patrick dan pria ini selalu dengan riangnya memberikan waktunya untuk teman-teman kantornya.

Tidak banyak waktu dihabiskan di kantor tersebut, Patrick mengambil barang-barangnya, satu kotak besar pun dia tenteng keluar gedung. “Kenapa Tuhan benci sekali kepadaku, apa sebenarnya salahku ini”, pikirnya sambil meneteskan air mata. “Berat sekali yang harus kulalui ini. Mana sanggup aku menanggung semua ini. Ini terlalu berat ya Tuhan”, katanya sambil menatap ke langit.

***

Tidak sampai 100 meter dari gedung kantor, Patrick tidak melihat jalan karena matanya yang digenangi air mata, kakinya pun tersandung sesuatu yang menyebabkan dia jatuh dan mem- buat barang bawaannya berserakan.

“SIAL, BENAR-BENAR SIAL” keluhnya lagi setengah teriak. “Setelah ini apakah setelah ini aku harus ditabrak mobil lalu aku mati, atau Kau akan masih mempermainkan aku dengan permainan yang lebih kejam lagi”, teriaknya lagi sambil menendang barang-barangnya.

Tidak jauh dari situ dia melihat seorang anak kecil berdiri di pinggir jalan yang sepertinya ingin menyeberang melewati jalanan yang begitu ramai kendaraan. “Kasihan”, pikir Patrick dalam hati.

Akhirnya dia pun memegang tangan anak itu dan berkata “Ayo kita nyebrang”. Dengan susah payah ia pun berhasil menyeberangkan dan balik kembali dengan selamat.

Patrick memutuskan untuk pulang ke apartemennya. “Lebih baik naik taksi lagi, tapi kalau uang ini cepat habis aku tidak akan mempunyai uang lagi, dan aku akan kelaparan, lebih baik aku simpan uang pesangon ku dan ku gunakan untuk keperluanku yang lebih berarti.

Akhirnya dia memutuskan untuk berjalan kaki menuju mobil bututnya yang ia tinggali teronggok di pinggir jalan pagi tadi. Selang beberapa lama, ia melihat ada tukang burger keliling, karena dia pun sadar kalau dia belum makan dari pagi dia pun membelinya. “Mas beli burgernya yah, yang itu tuh yang paling murah”, katanya dengan nada kecil.

“Yang ini” sambil menunjuk burger itu.

“Ya betul.”

Dengan lahap Patrick memakan burger itu dengan dua gigitan besar, “Yuck, ga enak, burger apa nih mas?”

“Itu burger yang paling murah”, jawab tukang burgernya.

“Saya tahu tapi kok ga enak”, tanya Patrick lagi.

“Yaelah namanya juga burger yang paling murah. Itu bukan daging sapi beneran, tapi daging-dagingan dari tempe. Makanya murah. Btw, kedelai lagi mahal lho cuy. Jangan banyak komentar lagi deh, bayar aja! Udah habis kan?”

“Iya juga sich”, sambil mengambil amplop pesangonnya.

“Bah mana amplop itu, perasaan gue taruh di kantong celana deh” Patrick mencari ke semua bagian bajunya sampai ia teringat waktu dia menolong seorang bocah untuk menyeberang.

“Pasti dia yang ngambil, wah parah banget nih, persediaan duit gw tuh untuk ngadepin hidup yang berat. Oh iyeh, untung di dompet gw masih ada uang 2 dolar, wah gak ada, tunggu bentar ya mas! Kalao ga salah gue naro 1 dolar dech dikantong baju,”

“Bah ga ada juga, aduh masa semuanya diambil ama tuh anak sich? awas aja kalo ketemu, habis dia gue bikin”

“Aduh darimana nih duit buat bayar tuh burger, oh iya gue nyimpen 1 dolar di sepatu, pasti ada, wah ada, gue bener-bener beruntung. Nich bang, kembaliannya ambil aja”.

“Hah? Gigi lo kembalian, masih kurang 25 sen lagi nih mas”.

“Yah mas saya ga punya duit lagi kasihanin saya dong” mohonnya.

“Lo yang bener ajah, orang yang patut dikasihanin tuh yang ngemis-ngemis disana, udah pergi loh, udah dagangan belom laku ada lagi orang kaya lo”.

Setelah lima jam berjalan, sampailah Patrick ke mobilnya yang nabrak terparkir. “Mudah-mudahan masih jalan”.

BRRUUMM, “Wah beneran hidup, gue bener-bener beruntung. Patrick hadapi hidup ini dengan pengharapan kepada Tuhan”, katanya dengan semangat kepada dirinya sendiri.

Akhirnya sampailah dia ke apartemennya dan menemukan hal yang mengejutkan sekali, pintu apartemennya terbuka lebar, dan dia mendapati seluruh barang-barangnya hilang lenyap di gondol maling, “Aku harus telepon polisi, bah telepon nya hilang”

“Udah gak kuat lagi lah gue hidup kaya gini, mendingan gue mati ajah lah, gile lu ndro gw gak mau ngalamin ini selama gue hidup” pikirnya. Dia pun naik ke lantai atas gedung apartemennya dan berencana mengakhiri hidupnya disana. “Lagipula siapa yang akan perduli dengan hilangnya seorang Patrick”, pikirnya lagi.

Setelah sampai di tepi, dia menangis untuk mengucapkan selamat tinggal terhadap dunia yang dia anggap kejam ini. “Selamat tinggal dunia, maafkan Patrick ya Tuhan, yang mengambil jalan pintas ini.”

Lanjut ke Chapter 2. “Weird being shows up”.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s