Chapter 3. Long rests

Baca chapter sebelumnya atau mulai dari awal.

Setelah selang waktu tertentu, menurut sistem waktu yang berbeda dengan bumi. Akhirnya Patrick pun bangun dari istirahatnya. Dia mendapati dirinya ternyata bukan di bumi, dia bingung kesana kemari, tapi dia hanya sendirian, muncullah Emon dengan muka sok baiknya itu.

“Woa woa woa! Kau kemanakan aku? Dimana aku? Siapa aku? Siapa kau? Siapa nama orang tua ku? Apa yang menyebabkan kau kesini? Siapa cinta pertama ku? A….”

“STOP!!! Sekalian aja kau tanyakan apa yang membunuh Ken Arok dan menikahi Ken Dedes isteri Tunggul Ametung dari jawa itu. Ada-ada aja loh, kalo nanya yang jelas donk masa yang ga penting ditanyain.” Teriak si emon kesal.

“Ye sorry lah, masa gitu aja marah, tapi jawab dong pertanyaan gue yang tadi!”

“Iye, iye, sebenarnya ini ada di planet Enzuariguzerhasiunos, planet pribadi gue. Sebenarnya sebelum lo gue bawa kesini keadaannya nggak jelek kaya gini, udaranya juga bukan 21 persen oksigen 78 persen nitrogen dan 1 persen gas lain seperti di bumi.” Kata emon ketus

“Tapi kenapa gue bisa idup disini?” tanya Patrick heran.

“Itu karena gue ngambil 1000 meter kubik udara dari bumi trus gue pindahin kesini,” terang emon

“Bukannya dengan begitu kau menghancurkan bumi pelan-pelan, pie to! Cepet balikin gak!!” bujuk Patrick

“Udah udah, lo tenang aja, itu udah gue atur, volume udara—bumi gue bikin konstan kok”

“Gimana caranya?” tanyanya heran.

“Bego luh ye, masa gitu aja kagak tahu sih. Yah dengan cara gue tuker dengan seribu meter kubik udara disini,” jawabnya tenang.

“Sama aja dong, cepet tuker balik, sekalian gue mau pulang ke bumi.”

“Lu kira gue jin bisa minta sesuka loh, tapi baiklah”

(chang..) “Eh tunggu dulu jangan ganti setting dulu!” (kenapa?) “Sebelum ke bumi, gue mau ngajak die ke suatu tempat dulu.”

 

(change setting)

 

“Dimana nih? Lo bawa kemana gw?” tanya Patrick.

“Udah lo diem ajah! Gue mau nemuin lo ma sese-Orang,” Jawab emon tenang.

“Lo ga pernah belajar di SD kali yawh mana ada seseorang O-nya gede, itu tuh ga sesuai ama yang namanya EYD, you know EYD?” tanya Patrick memulai ketidakjelasannya.

“Bodo amat, lo udah diam aja deh, dasar manusia gila. Masa Dia suka sama lo sih, gue ajah nggak tahan ama lo. Udah gila, sarap, gokil, ih bener-bener aneh!” gerutunya.

“Eh mulai lagi sekarang huruf d-nya yang digedein, eh asal lo inget yang namanya kata yang huruf awalnya selain nama orang digedein tuh Cuma buat yang namanya….”

“Hai Pat!!” tiba-tiba ada suara yang muncul.

“… Tuhan,” Patrick menyelesaikan kalimatnya.

“Apakah terlalu terburu-buru?” kata-Nya lagi.

“Siapa kau?” tanya Patrick heran

“Bukankah kau tahu siapa aku?” jawab suara itu.

“Ya, aku Tuhan. Alpha dan Omega, yang awal dan yang akhir.” Lanjutnya

“Tak mungkin!! Sebab kalau kau Tuhan, pasti aku adalah setannya,” kata Patrick ragu.

“Bukankah dia setannya,” kata nya menunjuk kepada Emon.

“Hei jangan bawa-bawa gue dong,” teriak Emon dari kejauhan—rupanya dia tau kalau dia sedang dibicarakan.

“Hei!” seru Patrick, “Itu jadi mungkin sekali sekarang,” lanjutnya. “Kenapa tak terpikirkan olehku selama ini.”

“Apa yang kau pikirkan anak muda?” tanya tuhan kepadanya.

“A..” belum Patrick menyelesaikan kata pada kalimat pertamanya,

“Ya kau benar” kata tuhan.

“Apa?” tanya Patrick, “aku bahkan belum berkata apa-apa.”

“Tapi aku tahu apa pikiranmu nak,” kata tuhan lagi.

“Benarkah? Seingatku aku belum berpikir apa-apa,” Patrick memulai kegokilannya.

“Aahh. Itulah yang kusuka dari mu,” kata Tuhan. “apa saja yang kau lakukan, pikirkan, itu hanya diluar saja, tetapi di dalam hati mu kau adalah salah satu manusia di dunia ini yang paling putih dan belum ternoda,” lanjut-nya.

“Benarkah?” kata Patrick bengong.

“Aahh. Kau memulai lagi” kata tuhan sambil memukul pundaknya.

“Auch, rasanya nyaman sekali,” erang Patrick.

“Kau mau lagi,” pukul tuhan lagi.

***

(change setting)

 

“Akh, apa yang terjadi disini?” erang Patrick sambil melihat bahwa sekujur tubuhnya penuh perban.

“Oh sayang, kau sudah siuman,” seorang wanita berbicara kepadanya, dia datang lalu memeluk tubuh Patrick yang terbaring lemah, wanita itu mulai menangis.

“Sandy, Sandy, Apakah itu kau? “ tanya Patrick kaget.

“Ya sayang, ini aku,” Jawab wanita itu pelan.

“Sandy, apa yang terjadi pada ku?” tanya Patrick pelan sambil membalas pelukannya. Sebenarnya ini yang sudah lama ia inginkan, dekapan erat dari wanita yang dicintainya.

“Aku tidak tahu sama sekali,” katanya, “Pada saat aku ingin mengembalikkan foto ibumu ke apartemenmu, aku melihat tidak ada apa-apa dikamarmu, lalu aku mencari mu ke sekeliling. Lalu saat aku memeriksa belakang gedung, aku melihat kau tergeletak, terluka parah dan bersimbah darah, aku pun langsung menelepon ambulans,” katanya sambil mengelap ingusnya. “Aku benar-benar tak tahu harus berbuat apa kalau terjadi apa-apa dengan mu,” lanjutnya lagi.

“Benarkah? Jadi itu semua terjadi disana.” Kata Patrick bingung. “Lalu bagaimana dengan iblis? Atau Tuhan? Apa aku hanya bermimpi?” kata Patrick dalam pikirannya.

“Siapa yang melakukan itu padamu Pat? Sebab siapapun Dia, dia harus mendapat ganjarannya,” kata Sandy lagi.

“Sudah berapa lama aku terbaring disini?” tanya Patrick lagi.

“Aku tidak yakin tapi mungkin kira-kira 8 sampai 9 minggu,” jawabnya.

“Sudah selama itu kah?” tanya Patrick lagi

“B…” belum selesai sandy menjawab Patrick menimpali.

“Sayang, itu salah satu pertanyaan yang harus tidak perlu kau jawab” seru Patrick pelan.

“Benarkah? Tapi tadi aku hanya ingin menanyakan bagaimana kalau ku panggilkan dokter,” kata Sandy membuat Patrick malu.

“Sandy!” panggil Patrick

“Ada apa Pat?” tanya Sandy heran.

“Apakah kau menjagaku karena kau ingin kembali lagi ke dalam ruangan hatiku yang telah kau tinggalkan?” kata Patrick sambil menatap wajah Sandy.

Mendengar pertanyaan itu, sandy kaget dan memalingkan wajahnya dari tatapan Patrick, “Baiklah, Pat, akan ku panggilkan dokter.” Kata sandy mengalihkan pembicaraan seraya keluar dari kamar Patrick.

Pertanyaan itu memang sedang dihindari Sandy selama ini. Setiap mendengar suara Patrick hatinya seperti tercabik-cabik, Sandy ingat sewaktu dia meninggalkan Patrick hanya karena suatu masalah  sepele, tetapi dia dengan teganya memutuskan Patrick begitu saja. Padahal dialah yang menjadi pacar sekaligus temannya yang paling baik dalam hidupnya, dia ingat betapa lucu dan gila tetapi romantisnya Patrick sewaktu menyatakan cinta kepadanya pada pertengahan semester kelima sewaktu masa kuliah dulu, dia penghibur disaat sandy tidak diterima bekerja, bahkan sewaktu dipecat. Dia selalu menasihati sandy dikala bingung. bukankah itu lelaki yang paling sempurna yang diberikan Tuhan kepadanya? bahkan dia pun selalu mengalah dan menyejukkan hatinya disaat penat. Apa yang menyebabkan aku berpisah dengannya? Apahkah hanya karena Patrick bertingkah aneh beberapa bulan yang lalu. Apa itu merusak arti Patrick yang sudah ada dalam hidupnya selama beberapa tahun.

“Ada apa miss Russel?” tanya dr. Stephen yang menangani Patrick.

“Dok, Patrick sudah siuman, apa dokter mau melihatnya sekarang?” kata sandy dengan semangat.

“Benarkah? Itu bagus sekali! Mari kita lihat keadaannya” kata dr. stephen lagi.

“Patrick ini dokter yang menanganimu sewaktu kau dirawat disini” kata sandy memulai pembicaraan

“Hai  Mr. Patrick! Apa kabarmu?” tanya dr. Stephen sambil menyodorkan salam kepada Patrick.

“Aku baik-baik saja, hanya sedikit perban membalut tubuhku, tapi itu bukan apa-apa.” Kata Patrick sambil meraih tangan dr stephen dan berjabat dengannya.

“Yah aku tahu Mr, memang aku tak berharap banyak terhadap kemajuan dari hasil operasi, sebab aku ingat bentuk wajah, badan, kepala, dan kakimu yang terpisah satu dgn yang lain.” Canda dr. Stephen

“Benarkah separah itu?” Patrick kaget dan mengecek bilaman ada bagian tubuhnya yang baru disambung.

“Hei itu semua memang terpisah bukan? Lihat tangan mu kakimu kepalamu! Apakah itu tersambung? Kalo bener-bener tersambung, baru aku kaget, ha..ha..ha..” Tawanya.

“Tapi tenang saja,” katanya lagi, “aku sempat memoto dirimu yang tengah dibawa kesini, benar-benar parah, tangan dan kakimu patah, lehermu bengkok dan sedikit punggungmu robek terkena serpihan kerikil sehingga mengakibatkan pendarahan yang hebat” tegas dr. Stephen sambil memberikan secarik photo kepada Patrick.

“Apa? Terkena serpihan kerikil bisa robek dan pendarahan? Bukannya itu tidak masuk akal?” tanya Patrick heran.

“Benar, tetapi kau tidak bisa memungkiri apabila serpihan itu besar dan tajam bukan” jawab dr. Stepehen tenang. “Tapi bagaimana pun juga kau pasti disukai oleh Tuhan, karena masih diberikan kesempatan hidup oleh-Nya, aku hanya bisa mengucapkan selamat atas pulihnya anda” sekali lagi dia menjabat tangan Patrick.

“Aku akan kembali lagi nanti untuk mengontrol perkembangan mu Patrick , jaga dan rawat dia miss! Jangan samppai dia terlambat  makan, ataupun kurang istirahat. OK!” kata nya lagi sambil keluar dari ruangan.

“OK dok, dan trim’s untuk bantuan mu selama ini.” jawab Sandy.

“Pat, kau harus istirahat sekarang, ayo kamu akan aku bangunkan jika sudah waktunya makan!” suruh Sandy secara halus.

“Come on Sandy! Aku baru bangun, masa kau suruh aku istirahat lagi” kata Patrick gusar.

“Aku tahu, Pat. Tapi kau belum sembuh benar. Kau  masih harus banyak istirahat, masakan kau tidak ingin menuruti kata-kataku?” kata sandy membujuk.

“Tapi,” sergah Patrick

“Tak ada tapi-tapian,” kata sandy mulai serius.

“Ok mam.” kata Patrick pasrah

“Atau aku disukai Iblis.” Gumam Patrick. “Well, Mungkin itu semua hanyalah mimpi,” katanya lagi sambil memejamkan mata.

Lanjut ke Chapter 4. A friendly little friend.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s