Chapter 4. A friendly little friend

Baca chapter sebelumnya, atau mulai dari awal.

Hari-hari dirumah sakit pun berlalu, hari-hari yang dihabiskan bersama sandy dirumah sakit. Setiap sandy tidak berada di sisinya, Patrick merasakan kesepian yang begitu mendalam—sebab sandy hanya mengunjungi Patrick di saat siang dan sore hari saja. Tetapi hal itu tak membuat Patrick terlalu merasa kesepian, sebab Patrick selalu mengunjungi beberapa pasien, sharing kepada mereka, menguatkan hati mereka dengan kata-kata yang sangat dahsyat menggugah seluruh jiwa dan raga. Katakan Amin.

Teman pasien favoritnya adalah seorang anak yang bernama Joe, dia adalah anak berusia 10 tahun, penderita leukimia. Pertama kali mereka bertemu adalah ketika Patrick mengunjungi satu-satu pasien. Dia melihat anak itu begitu pemurung, saat dia pertama menegurnya, anak itu diam saja. Sampai suatu ketika, Patrick melihat anak itu menangis, begitu sedihnya, akhirnya Patrick pun mendatanginya dia begitu lembut dan penuh kasih sayang kepada anak itu. Pada saat itulah mereka mulai bersahabat.

Hanya kepada Joe lah Patrick bisa mengobrol berlama-lama, terkadang dia melucu kepada Joe, dan mereka berdua pun tertawa terbahak-bahak. Mungkin hal yang menyebabkan mereka begitu cocok adalah suatu kenyataan bahwa mereka di jauhi oleh orang-orang disekitar mereka. Joe pernah berkata kepada Patrick kalau dirinya dijauhi oleh kakak dan adiknya, karena terlalu cengeng dan manja, dan mereka berdua selalu berkata kalau ayah dan ibunya terlalu sayang kepada Joe. Tetapi Patrick berkata kalau dia tidak akan menjauhi joe dan akan selalu berteman dengannya.

Pada suatu ketika Patrick ingin mengunjungi temannya itu, sebelum dia masuk, dia melihat orang tua Joe. Ibunya memeluk ayahnya sambil menangis. Joe hanya duduk diam saja di pinggir ranjang memalingkan wajahnya dari kedua orang tuanya.

Setelah joe melihat Patrick datang, joe langsung memeluk dirinya dan berkata “Mistar (nama panggilan joe kepada Patrick, mungkin Patrick sedikit tidak menyukainya), mengapa kau begitu lama kemari? Aku menunggumu dari tadi disini.”

“Maaf kan aku sobat, aku menemui temanku dulu tadi. Bagaimana kabarmu? Mau berjalan-jalan ke taman bersamaku?” kata Patrick

“Ayo, hahaha, mari kita berangkat!” seru Joe bersemangat.

“Mistar, ” panggilnya

“Apa jagoan?” jawab Patrick

“Apa aku akan mati?” katanya lagi

“Apa maksudmu? Mengapa kau berkata demikian, bukankah kita semua akan mati, bahkan yang membaca tulisan ini juga akan mati, tapi kamu tidak usah khawatir, sebab yang penting dari kehidupan kita itu bukan hidup atau pun mati, tetapi nilai-nilai yang sudah kita lakukan baik untuk Tuhan maupun untuk orang disekitar kita. Nah, itulah yang penting, apa kau mengerti?” jelas Patrick.

“Mistar, bukankah ucapanmu itu terlalu dewasa untuk anak berumur sepuluh tahun? Tapi apa menurutmu aku sudah memiliki nilai-nilai itu?” tanya anak itu lagi.

“Tentu saja” jawab Patrick, “Kau sudah memiliki nilai itu dengan berada di dihati orang yang ada disekitarmu,” terangnya lagi.

“Kalau begitu, mistar, mungkin aku sudah siap apabila Tuhan datang menjemputku,” kata Joe pelan.

“Ada apa Joe? kenapa kau berbicara seperti itu?” tanya Patrick karena tidak fokus mendengar perkataan Joe.

“Mmh… tidak, bukan apa-apa mistar.” Jawab Joe. “Mistar, aku ingin kembali kepada orangtuaku dulu, kau tidak perlu mengantarku”.

“Baiklah, kalau begitu sampai jumpa sobat” kata Patrick dengan setengah teriak melepas kepergian anak itu.

“Selamat tinggal mistar…” kata Joe membalas teriakan Patrick.

“Hah, selamat tinggal? mau kemana anak itu?” gumam Patrick.

***

Sebenarnya di rumah sakit itu tidak terlalu buruk, malah bisa dibilang lebih baik dari kehidupan Patrick yang dulu. Hanya saja, tekadang ada sesuatu yang menyeramkan, Patrick selalu melihat sekelebat bayangan hitam di rumah sakit itu, bahkan sesaat sesudah muncul bayangan hitam, selalu saja ada pasien yang meninggal. Hal itu sempat membuat Patrick bertanya-tanya, tetapi toh hal itu tidak membuat perasaan takut dalam dirinya.

“Akhirnya besok aku sudah diizinkan pulang. Aku benar-benar tak sabar menunggu besok. Akan ku mulai dari awal hari-hariku yang menyenangkan,” katanya sebelum berdoa untuk tidur. “Semangat!!” katanya sembari memejamkan matanya.

Setelah Patrick memejamkan matanya, terlintaslah lagi sebuah bayangan hitam lagi. Dia pun membuka matanya lalu memeriksa sekeliling. Setelah memastikan bahwa tidak ada apa-apa, dia pun kembali tidur. Mungkin dia tidak menyadari bahwa sudah waktunya teman kecilnya itu untuk kembali ke rumah Tuhan.

Keesokan harinya, dengan bersemangat, `GUBRAGH’ mungkin karena terlalu bersemangat sampe jatuh dari ranjangnya Patrick terbangun dengan mengerang kesakitan. Sambil bersiap-siap mengepakkan barang bawaannya, dia berniat meninggalkan rumah sakit itu.

Kira-kira pukul 8 lewat, akhirnya datanglah Sandy menjemput Patrick. “Apa kabarmu tuan baik?” sapa sandy kepada Patrick.

“Hmmm sepertinya aku tak sabar keluar dari rumah sakit ini, tapi mungkin lebih tidak sabar untuk kembali bersamamu, nona” goda Patrick.

“Ehem…” tiba-tiba ada suara seorang laki-laki muncul dari balik pintu kamar. Pria itu membawa seikat bunga untuk diberikan kepada Patrick.

“Apa kabar tuan Patrick?” kata pria itu lagi. “Sebenarnya dari dulu aku ingin mengunjungimu, tetapi wanita ini melarangku datang,” Katanya lagi sambil melingkarkan kedua tangannya ke perut sandy dari belakang.

“Tidak apa-apa,” kata Patrick canggung. Dia tidak tahu menahu sama sekali tentang pria ini. Pacar kah? Tunangan kah? Sepertinya kalau tunangan bukan, sebab tidak ada cincin yang melingkari jari sandy, pikir Patrick dalam hati. Tapi itu tidaklah cukup untuk menutupi kenyataan bahwa sandy ternyata menyembunyikan itu semua selama dia berada di rumah sakit.

“Siapa kau mister…” kata Patrick sambil menyodorkan tangannya.

“Essien, Robert Essien, aku teman laki-laki sandy.” jawab pria itu lagi sambil melepaskan tangannya dari sandy dan menjabat tangan Patrick.

“Aku sering mendengar tentangmu dari sandy, aku begitu penasaran ingin bertemu orang yang begitu baik sepertimu, tetapi kau lihat kan? Aku baru bisa menemuimu kali ini.” Kata robert lagi.

“Apakah sandy selalu membicarakan aku bagian yang baiknya saja? Masalahnya aku mempunyai sifat yang jelek sekali, sampai-sampai menyebabkan sandy memutuskan hubungan kami dulu,” kata Patrick lagi, dia menunjukkan ketidak nyamanannya secara kasat mata.

Patrick pun mengambil tasnya lalu berjalan meninggalkan mereka berdua tanpa mengucapkan salam perpisahan kepada sandy, bahkan dia melewati sandy dengan memalingkan muka.

Patrick tadinya bermaksud mengucapkan pamit kepada Joe. Namun setelah Patrick melihat bahwa kamar Joe kosong, dia bertanya-tanya kemana anak itu pergi, akhirnya dia pun menanyakan hal itu kepada dokter, “Anak itu baru saja meninggal dunia, kemarin malam pukul 10.23 pm dia menghembuskan nafasnya yang terakhir. Aku turut menyesal tuan, tapi kalau kau mau tahu, keluarganya akan menguburkannya siang ini di pemakaman terdekat.” kata seorang dokter yang ditemuinya.

Dada Patrick terasa sesak, dia tidak menyangka akhirnya akan seperti ini. Seorang teman kecil baginya, meninggalkan dia. Air matanya mulai mengalir membasahi pipinya. Dengan cepat dia berlari menuju pemakaman tempat dimana Joe dimakamkan.

Setelah sampai ke tempat pemakaman itu terlihatlah banyak orang berkumpul, seorang pendeta membacakan hal yang harus dibacakan. Disebelah kanan peti mati terlihat seorang ibu yang sudah dikenalnya. Itu ibu nya Joe. Dia begitu sedih kehilangan anak yang di kasihinya.

Dia makin menangis meraung-raung setelah penutupan peti dilangsungkan. Setelah kerumunan pelayat mulai meninggalkan kuburan, ibu Joe melihat Patrick yang berada di samping pohon Ek besar. Dia mendekati Patrick, “Mistar Patrick, bukankah kau teman Joe?”

“Betul mam,” jawab Patrick. “Aku sungguh menyesal Joe begitu cepat meninggalkan kita semua,” kata Patrick lagi. “Bagaimana mungkin…” kata Patrick sambil terisak.

“Tidak apa-apa, memang berat merelakan dia pergi, sewaktu dokter memberitahu kami bahwa hidup Joe tak lama lagi, kami sangat tidak menerima hal itu terjadi, Joe marah. Dia tidak ingin melihat kami lagi, setiap kami memanggil namanya, dia tidak menengok, bahkan selalu membuang muka.”

“Tetapi setelah kau datang waktu itu, dia begitu gembira, kami tidak mengerti mengapa dia begitu merasa nyaman bila bersamamu. Tapi setelah dia kembali dari kamu, dia begitu ceria, dia berkata kalau kami semua tidak cemas, `Joe sudah siap dipanggil tuhan, ayah, ibu,’ katanya. Hatiku bertambah sakit setelah dia berkata seperti itu. Joe melarang kami semua menangis di hadapannya, sebab dia hanya ingin melihat kami bahagia dan tidak mengkhawatirkan dia.” Kata mama Joe.

“Dia disana sekarang,” kata mama Joe lagi sambil menunjuk ke arah langit yang sangat cerah itu.

Bersambung ke Chapter 5. New power, new task.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s