Chapter 6. Back to home

Baca chapter sebelumnya atau mulai dari awal

Kata pengantar


Keesokkan harinya, kira-kira pukul sembilan, Patrick terbangun oleh suara ketukan pintu apartemennya, dia merasa gusar sekali terganggu dari tidurnya yang lelap, bahkan kira-kira kalau dia tidak terbangun dia bisa menyelesaikan hari ini dengan hanya tidur saja, mungkin lelah kali ya? Tapi itu kelewatan.

Dengan terhuyung dia berjalan menuju pintu, tanpa dia sadari di depan kakinya terdapat bingkai foto yang sudah kotor dan berdebu. Karena tidak hati-hati dia tersandung bingkai foto itu dan jatuh. Saking kagetnya Patrick melayang untuk menghindari dirinya supaya tidak jatuh ke lantai.

“Fiuh, hampir saja,” serunya dalam hati. Tampaknya rasa kaget ini membuat dia kembali segar.

“Siapa itu,” teriak Patrick.

“Ini aku,” terdengar suara Sandy dari pintu.

“Waduh, mati aku,” katanya pelan sambil menepok jidat.

Agak terkejut, Patrick kembali berdiri dan menghentikan waktu, dia belum bersiap-siap badannya masih kotor, apartemennya kumuh.

“Masa iya gw ngebiarin Sandy masuk ke dalam sarang-sarangan seperti ini. Oke, beres-beres dulu bentar. Mon… Moooonn bantuin gw bersih-bersih yuk,” ajak Patrick.

“Ogah, gw masih ngantuk, urusin sana urusan manusia lo sendiri,” tolak Emon dengan cibiran khasnya.
“Jiah, masak Iblis butuh tidur. Oh come on Patrick, gimana mungkin Iblis ya Iblis, ga akan mereka mau bersinergi untuk kepentingan orang lain,” kata Patrick meneguhkan diri.

Memang cukup banyak hal yang perlu dikerjakan. Menyapu, mengepel, bahkan Patrick harus menyembunyikan barang rongsok dan meminjam banyak furniture seperti kursi dan meja dari toko furniture depan.

Setelah selesai dengan segala pekerjaannya dia melanjutkan waktu, sampai ke depan pintu dia pun membuka pintu.

“Hai Sandy,” sapa Patrick sambil berusaha menyembunyikan rasa lelahnya.

“Hai,” kata Sandy sambil memeluk tubuh Patrick. “Kemana saja kau setelah dari rumah sakit? aku sangat menghawatirkanmu,” kata Sandy lagi.

“Kemarin…, hm… kemarin aku menghadiri penguburan temanku, bagaimana kalau kita mengobrol di dalam?” kata Patrick mengalihkan pembicaraan.

“Baiklah,” jawab Sandy.

Keduanya pun duduk di sofa baru yang berada di ruang tamu.

“Akan ku ambilkan minum untukmu,” kata Patrick.

“Sekalian cemilannya,” jawab Sandy bercanda.

“Adakah hal penting yang membuatmu kemari?” tanya Patrick sambil membawa air minum.

“Aku hanya ingin mengunjungimu, aku bingung tentang sikapmu kemarin, aku kira kau merasa terganggu dengan Robert,” kata Sandy sambil melahap kacang rebus.

“Aku tidak merasa terganggu dengannya, Sandy. Aku hanya…” Patrick tak bisa menyembunyikan kecemburuannya.

“Dia adalah penolongmu, Pat. Dia yang membiayai kau selama di rumah sakit. Aku hanya minta kau memberikan sedikit rasa hormat kepadanya, Hanya itu,” terang Sandy.

“Maafkan aku Sandy, aku hanya tidak tahan melihat kau dekat dengan laki-laki lain”.

“Hei kau tidak bisa begitu, kita sudah putus, kau ingat? Jadi jangan pernah merasa bahwa aku adalah milikmu, aku bebas bersama dengan lelaki lain bukan. Kau tahu? kemarin aku sangat merasa tidak enak dengannya. Aku hanya ingin kau mengucapkan terima kasih kepadanya, namun kau tiba-tiba menghilang.” kata Sandy dengan nada sedikit marah.

“Aku tahu, aku akan meminta maaf dan berterima kasih kepadanya karena sudah membiayai biaya rumah sakitku.” Patrick tertunduk, dia mengakui memang kelakuannya waktu itu sedikit kurang ajar dan tidak pantas dilakukan kepada orang yang sudah menolongnya.

“Oh iya Pat, aku ingin bilang kalau keluargamu sangat khawatir mengenai keadaanmu, aku tidak bilang kalau kau kecelakaan kemarin, aku takut mereka sangat terpukul mendengarnya, jadi aku bilang saja kalau kau sedang sangat bertugas keluar kota. Sebaiknya kau menghubungi mereka sekarang.” Kata Sandy.

“Baiklah, aku akan mengunjungi mereka besok. Terima kasih Sandy.” Kata Patrick.

“Terima kasih untuk apa?” tanya Sandy pura-pura tak tahu.

“Untuk menjagaku,” jawab Patrick.

“Oh Pat, jangan sungkan. Aku hanya ingin kau baik-baik saja, aku hanya tidak ingin gara-gara aku kau kenapa-napa. Hatiku sangat sakit.” Kata Sandy lagi. Mungkin pikirnya Patrick ingin bunuh diri karena hubungan mereka yang putus. “Baiklah, aku mau pulang dulu” katanya sambil berdiri dari sofa.

“Jaga dirimu ok,” kata Sandy sambil memeluk tubuh Patrick.

“Baik, mam!” kata Patrick.

“Dan jangan lupa akan janjimu, ok,” kata Sandy sambil melepas pelukannya.

“Aku tak akan,” jawab Patrick.

“Aku pergi,” kata Sandy lagi.

“Hati-hati di jalan.”

“Ok,” jawab Sandy.

“Oh capeknya,” kata Patrick. “Aku harus mengembalikan lagi semua barang-barang ini,” katanya lagi.

“Perlu bantuan?” tiba-tiba terdengar suara Emon.

“Bantuan? Boleh, kau sudah bangun kan?” tanya Patrick sedikit kesal.

“Ya bantu…, bantu dalam doa misalnya, he..3x” ejek Emon.

“He.. he.. lucu, dasar iseng! Pergi kau! Aku sibuk.” Kata Patrick lagi.

Patrick akhirnya mengembalikan barang-barang yang dipinjamnya.

Setelah agak siang, kira-kira pukul satu, Patrick bersiap-siap untuk menemui Robert. Dia melihat ke sana-sini, sepertinya tidak ada pakaian yang pantas untuk di pakai, akhirnya dia memutuskan untuk meminjam lagi, tapi kali ini dia meminjam pakaian dari sebuah binatu tempat langganan Robert (tentu saja dia tidak mengetahuinya), tanpa dia sadari yang dia ambil adalah bajunya Robert

“Akh sepertinya yang ini bagus,” katanya.

“Bagaimana penampilanku?” tanyanya kepada Emon,

“Kau mau yang jujur atau bohong?” tanya Emon balik

“Jujur sepertinya lebih baik,” kata Patrick.

“Ok, sejujurnya aku tidak perduli” jawab Emon nyengir.

“Bagaimana dengan yang bohong?” tanya Patrick kurang puas.

“Aku perduli bingits,” jawab Emon lagi.

“Sip, terima kasih” Kata Patrick memuaskan diri.

“Terserah” Kata Emon sinis.

“Na..na..na..,” gumam Patrick, dia pura-pura tidak mendengar. Mungkin Patrick masih berfikir apa gunanya Iblis ini di hidupnya. Mungkin dalam hatinya dia kesal dan menginginkan kehidupan dulunya kembali. More normal, less trouble.

***

Akhirnya Patrick menemui Robert, di kantornya. Dia mendatangi sekertaris Robert, lalu sekertaris itu mengijinkan dia masuk, sedangkan waktu menunjukkan pukul 11.25 am. Setelah diizinkan masuk, akhirnya Patrick masuk.

“A… aku minta maaf atas perbuatan ku kemarin, dan aku juga berterima kasih atas pertolonganmu selama aku dirawat,” kata Patrick sambil menundukkan mukanya. Dia berkata sambil tergagap, maklum aja dia tuh grogi setengah mati.

“Soal terima kasih yah sama-sama, itu memang tugas kita sebagai manusia untuk saling tolong menolong, tapi untuk apa kau minta maaf?” tanya Robert balik.

“Kan kemarin, sewaktu pulang dari rumah sakit, aku bahkan tidak pamitan ataupun mengucapkan terima kasih kepadamu,” jawab Patrick.

“Owh… sudahlah, aku juga akan berbuat seperti itu jika berada dalam kondisi seperti kau, ha..ha..ha..” kata Robert sambil tertawa kecil.

“Jika dalam kondisi seperti aku? Apa maksudmu?” tanya Patrick tak mengerti.

“Ya… jika aku tidak kuat menahan buang air, aku juga tidak akan menghiraukan siapa pun, kau tahu? Wc adalah surga pada waktu itu… dan itu tujuanku pasti hanya kesana. Sudahlah brah, soal kemarin itu lupakan saja.” kata Robert menenangkan.

“Baguslah kalau begitu,” kata Patrick sambil mengelus dada. “Kalau begitu aku ingin pamit,” kata Patrick lagi.

“Tunggu dulu bro!! Apa kau ada urusan yang penting?” tanya Robert.

“Mmmh.. sebenarnya tidak ada. Memangnya ada apa?” tanya Patrick penasaran.

“Aku ingin mentraktirmu makan siang,” ajak Robert.

“Makan siang?” kata Patrick.

“Yah.. aku akan mentraktirmu makan apa saja yang kau mau… ayolah aku ini ingin menjadi sahabatmu. Kau mau kan?” kata Robert dengan nada yang sedikit memaksa.

“Baiklah..” kata Patrick “Aduh asik, tadi pagi kan aku kerja rodi tanpa sarapan,” katanya dalam hati.

“Dasar tak tahu malu kau?” tiba tiba ada yang berbicara, tetapi itu seperti suara Robert.

“Apa?” tanya Patrick.

“Apa yang apa?” tanya Robert.

“Kau tidak mengatakan apa-apa?” tanya Patrick lagi, dia yakin itu suara Robert. Atau jangan-jangan dia bisa mendengar suara hati orang lain.

“Tentu saja.” Jawab Robert sambil tersenyum.

“Bagaimana acara minta maafnya? Lancarkan.” Tanya seseorang yang suaranya mirip Robert.

“Tentu saja lancar”, Patrick menengok kearah dimana suara itu berasal yaitu dari arah Robert, dia pun menengok ke arah kepala Robert, dia kaget karena dia melihat Emon sedang berdiri di kepala Robert.

“Apa yang lancar?” tanya Robert sambil tersenyum.

“Mmm… maksudku lalu lintasnya lancar saat aku kemari.” Jawab Patrick gagap.

“Ohh… tapi setahuku jalan macet hari ini sampai-sampai banyak pegawai yang datang telat. Oh iya, bajumu bagus,” kata Robert sepertinya dia mengenali baju yang dikenakan Patrick.

“Hahahaha… ini benar-benar lucu,” tawa Emon.

“Apanya yang lucu?” tanya Patrick kepada Emon. Robert semakin heran kepada Patrick kenapa dia selalu berkata yang oot. Dan kali ini dia berusaha untuk tidak menjawab.

“Tentu saja kau…” kata Emon sambil cengengesan. Seketika itu juga Patrick menghentikan waktu. Semuanya terhenti, mobil, motor, orang-orang, anjing, pokoknya semua.

“Apa sich yang lucu dariku?” tanya Patrick penasaran. “Cepet kasih tahu gak, soalnya gue jadi ga pede nih,” kata Patrick dengan nada yang sedikit membentak kepada Emon.

“Apa kau tahu? Baju siapa yang kau pakai?” geli Emon.

“Baju siapa?” tanya Patrick heran.

“Itu baju orang ini tolol, hahahaha makanya jangan asal make baju orang.” Tawa Emon lagi.

“Sial kau, kenapa kau tidak bilang dari tadi, kan aku bisa pinjam dari tempat lain, ugh dasar Setan!!!!” kata Patrick kesel. Lalu dia mengembalikan waktu seperti semula.

Setelah kira-kira berjalan setengah kilometer dari kantor Robert, akhirnya mereka memasuki sebuah restoran yang terkenal di kota itu.

“Kau boleh memesan apa saja, jadi inget, jangan sia-siakan kesempatan ini,” suruh Robert. Lalu mereka duduk di meja dengan 4 kursi, Patrick dan Robert berhadapan, sedangkan Emon duduk di samping Patrick.

Datanglah pelayan yang menanyakan pesanan, dia memberikan buku menu, lalu Robert memesan “Aku pesan ini, ini dan ini.”

“Aku juga ini, ini, tapi minumanku ini.” Kata Patrick.

“Aku pesan pizza dengan paperoni dan keju dan jus wortel ekstra besar.” Kata Emon.

“Yang disana pesan pizza dengan paperoni dan keju dan jus wortel ekstra besar.” Sambil menunjuk sebelahnya dan menatap pelayannya.

“Baik. Tuan silahkan menunggu sebentar,” kata pelayan itu. Lalu dia pun balik ke dapur.

“Kau memesan banyak sekali, kau yakin bisa menghabiskannya?” tanya Robert. Sedangkan Patrick baru sadar kalau tadi Emon yang ngomong, sedangkan dia aja ga perlu makan. Tiba-tiba terdengar suara tawa yang keras, Emon tidak bisa menahan tawanya.

“Tentu saja.” Kata Emon mengecilkan suaranya. “Si iblis ini akan ku beri pelajaran.” Kata Patrick dalam hati.

“Beri pelajaran? Untuk apa aku belajar” mulai Emon,

“Bisa kah kau tidak mengganggu aku untuk sebentar saja”, kata Patrick dalam hatinya,

“Tentu aku bisa, hoohohoho, tapi dalam mimpi aja kali ya, hehehe”, tawa Emon.

“Dasar kau”, Patrick mulai sebal dengan iblis itu.

Makanan pun datang.

“Duh, makanannya bagus-bagus banget, sayang banget kalo ga dipoto mana jarang-jarang lagi ke restoran kaya gini,” kata Patrick dalam hati.

“Patrick, apa kah kau masih mencintai Sandy?” tanya Robert tiba-tiba,

“Hmpppfft,” sepertinya Patrick langsung tersedak ketika mendengar pertanyaan itu,

“Kau tidak apa-apa?” tanya Robert basa-basi.

“Iya aku tidak apa-apa”, Patrick mengambil serbet dan membersihkan mulutnya.

“Tentu saja aku masih mencintainya, rob”, jawab Patrick sambil membersihkan mulutnya, matanya terlihat serius sekarang. “Aku sudah mengenalnya selama 10 tahun, dan kami sudah berpacaran selama 7 tahun”, lanjut Patrick.

“Oh, jadi begitu? aku ingin tahu bagaimana pendapatnya soal ini,” kata Robert. “Apakah kau keberatan dengan hubungan kami saat ini?” tanya Robert lagi, sebenarnya dia tak perduli apa pun jawaban Patrick, itu tidak bisa sama sekali merubah keadaan saat ini bukan.

Setelah selesai makan, Robert melihat ke jam tangannya, “Oh, maaf ya Patrick, sepertinya aku harus kembali ke kantor. Terima kasih sudah mau makan siang dengan ku,” dengan menepuk bahu Patrick dia meninggalkan Patrick dan membayar billnya.

Patrick terdiam dan murung, matanya sudah tidak seceria dulu lagi, “BAGAIMANA BISA SEBUAH KEJADIAN KECIL MERUSAK MASA DEPAN KU, CINTA KU DAN lain lain”, teriak Patrick dalam hati.

“Wo wo woa, ada apa ini”, tanya Emon dengan muncul tiba2 sepertinya dia merasa terusik dengan teriakan Patrick tadi.

Patrick menarik kerah Emon, dengan sekejap dia menghentikan waktu, dan membawa Emon terbang keatas.

Setelah sampai keatas, dia melepaskan kerah Emon mendorongnya dengan keras. “Aku tidak bisa menerima perlakuan mu dalam rangka menjauhkan Sandy dari pelukanku kau tahu?”, bentak Patrick kepada Emon. “Aku tidak pernah ingin hal itu terjadi, 7 tahun masa yang kubangun bersama dia hancur hanya karena keberadaan kau”, Patrick menangis dengan sangat haru. “Sekarang aku hanya bisa melihat dia dalam pelukan laki-laki lain, aku tidak tahu apa yang akan ku perbuat padamu jika kau tidak memperbaiki hal itu”, harunya lagi.

“Bisa kah kau berhenti?” Emon mencoba menenangkan Patrick. “Marahmu membuatku takut, kau tahu itu? Aku berada dalam pikiranmu, mentalmu dapat membahayakanku tahu,” lanjut Emon berusaha meyakinkan Patrick.

“Jika demikian pun, biarlah dirimu bahaya, aku tidak perduli. Apa yang kupunya lagi dalam hidup ini. Semuanya hancur berantakan. Tidak kah kau perduli kepada itu semua sebelum menghancurkan hidupku dulu?” ini cukup bahaya, ingus dan air mata Patrick makin tak bisa dibedakan, ga kebayang kalo masuk ke mulut.

“Tolong, hentikanlah.. Akkk,” belum selesai Emon berbicara seseorang yang mengerikan datang dan menebas lehernya. Putus. Darah hitam juga memuncrati tubuh Patrick.

“Emon… Emon..”, seru Patrick terbelalak. “Maafkan aku.. siapa.. siapa kau,” lanjut Patrick  terbata-bata.

“Namaku Dome, senang bertemu denganmu”.

Wuih, siapakah Dome? Apa yang terjadi dengan Emon? Bagaimana nasib Patrick selanjutnya. *PLAK* ditabok gara-gara banyak nanya.

Bersambung ke Chapter 7. Firm decision to stay.

Advertisements

One thought on “Chapter 6. Back to home

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s