Chapter 7. Firm decision to stay

Baca chapter sebelumnya atau mulai dari awal


Patrick menyeringai ketakutan dan mencoba berdoa.

“Lihat apa yang aku bisa perbuat denganmu manusia kecil,” kata Dome menakuti.

“Plis, jangan membunuhku, aku punya 3 anak,” kata Patrick memohon melas.

Dome tidak menghiraukan. Dihunusnya pedang itu ke arah Patrick.

“Tidaaaaak…” Patrick berteriak sambil memejamkan matanya.

“HA! Coba lihat mukamu itu!!”, tawa Emon dengan hanya kepalanya yang melayang.

“Lucu sekali. Aku menikmati setiap usilan yang kuperbuat terhadap dia. Tapi yang sekarang sepertinya lebih pamungkas . Hahaha.” Tawa Emon puas sambil membetulkan posisi kepalanya ke badannya.

“Woa. Aku benar-benar tidak menyangka. Belum lama aku komplen terhadap tingkahmu kau sudah mengerjaiku lagi. Padahal aku kuatir tadi.” Kata Patrick sebal. Dia pun menyapu air matanya yang sedikit berlinang.

“Jadi iblis ini adalah rekaanmu semata?” Tanya Patrick mengalihkan situasi. Patrick mendadahkan tangannya kemuka Dome. Dia juga memanjat punggung Dome yang tinggi.

“Hei! Hentikan!,” Dome meraih kerah punggung Patrick dan melemparnya sedikit keras.

“Adaw!” erang Patrick.

“Emon, sudah lama tak bertemu.” sapa Dome ke Emon.

“Apa kabar anak penakut,” Jawab Emon senang, mereka berdua pun melakukan ritual sapaan khas iblis.

“Apa perihal kunjunganmu?” tanya Emon. “Kuharap kau tidak membuat keonaran yang tidak dapat kau tangani sendiri.” lanjutnya sedikit bercanda.

“Begini, Luci menyuruhku kemari untuk menjemputmu pulang.” jawab Dome. “Lagi pula apa yang kau lakukan disini, tumben sekali kau menghabiskan waktu terlalu lama di sebuah realita. Lucunya lagi, kau berbagi pikiran ketika merasuki manusia. Kau buang-buang waktu di sini.”

“Soal itu, aku juga sebenarnya sudah mau pulang, tapi apa daya, aku tertahan disini. Ga biasanya Michael si malaikat itu naik pitam saat aku pengen ngerjain manusia.”

“Jadi kau disini karena takut sama seorang Malaikat? Mana sini kita habisin dia rame-rame. Kuku ku gatel nih karena sudah lama tidak berkelahi,” kata Dome menantang.

“Pokoknya, aku ga berani melanggar titah Luci. Hidup atau mati aku harus bawa kamu pulang. Kalau pun harus menghadapi Tuhan sekalipun.” lanjut Dome sok serius.

“Halah, memang kau bisa apa, aku tahu macam lagak kau itu.” sahut Emon sambil menempeleng kepala Dome. “Kau itu cuma berani nantang-nantangin saja, pada akhirnya keok juga. Berapa kali aku selalu membantumu ketika kau dipergoki oleh Malaikat penjaga ketika berbuat ulah.” sindir Emon.

“Huwaa, habis gimana. Aku juga merasa terkutuk pas disuruh Luci. Aku tahu benar akibat dari kegagalan menjalankan perintah: MATI!” kata Dome ngeri.

“Kenapa kita tidak utamakan dialog dengan Malaikat itu saja,” potong Patrick menenangkan. “Ingat, banyak perseteruan di dunia ini terjadi karena salah paham. Jika kita bermusyawarah secara mufakat, semuanya pasti akan baik-baik saja. Benar tidak yang aku bilang?”

“Hahaha, kau tahu apa. Di ambang dunia malaikat dan blis, tidak ada yang namanya kesalah pahaman. Semua sudah jelas hitam putih, baik buruk. Tidak seperti manusia, kami tidak bermuka dua. Semua tersingkap, tak ada kebohongan, dan, well, sepertinya aku terlalu banyak teori. Seperti manusia saja. Hihihi” Emon tertawa terbahak-bahak karena mencium ironi terhadap perkataannya sendiri.

“Hmpft,” Patrick manyun ketika mendengar Emon menyindirnya.

“Lalu apa keputusanmu,” tanya Dome meminta kepastian.

“Baiklah, ayo kita pergi dari sini, sepertinya sudah cukup aku bermain-main” jawab Emon.

“Mengingat serangan tak terkira yang akan datang kepadaku, kita harus pergi jauh-jauh dari pusat kota dan berangkat dari tempat dimana tidak ada makhluk hidupnya,” lanjut Emon.

Dome bingung, kenapa tiba-tiba Emon peduli sekali kalau-kalau kota ini hancur. Bukankah persetan dengan semua benda duniawi ini.

“Jangan berpikir seperti itu Dome, kau tahu, merasuki manusia saja sudah merupakan kejahatan. Aku tidak ini memperburuk suasana dengan membuat semua kota ini hancur,” kata Emon menjelaskan.

“Ya, terserah kau lah. Yang penting aku senang selama tugasku beres,” sahut Dome senang.

“Tunggu dulu, Emon, lalu apa yang terjadi denganku setelah kau keluar dari tubuhku?” tanya Patrick penasaran.

“Kau akan kehilangan semua kemampuan iblisku, kau tidak bisa lagi memanipulasi ruang dan waktu,” jawab Emon.

“Oke, aku memang tidak membutuhkan kemampuan itu,” kata Patrick sedikit lega.

“Selain itu juga, tubuhmu menjadi lebih menarik untuk iblis-iblis yang lebih jahat dariku untuk dirasuki. Bayangkan, beberapa bulan hidup dikerjai olehku, namun lebih parah. Aku puas membayangkannya,” lanjut Emon dengan semangat.

“Whoaa, apa-apaan. Aku memang sangat kesulitan ketika kau mengerjaiku. Tapi setidaknya aku sudah terbiasa dan memiliki harapan bahwa mulai sekarang aku bisa memulai segala-galanya dari awal lagi. Please, aku tidak siap hidup dalam bayang-bayang menjadi mainan iblis selamanya. Aaaa,” keluh Patrick meronta-ronta.

“Sudah, kau tenang saja. Hal itu belum tentu terjadi, lagipula kalau memang terjadi, kau tak akan sadar. Soalnya mereka akan memiliki pikiranmu seutuhnya, sehingga kau tidak memiliki akses terhadap tangan, kaki, atau badanmu. Oke, aku mulai sedih membayangkannya.” Kata Emon sedikit pelan.

“Ah, yang benar saja,” Patrick mulai resah dengan masa depannya yang tidak jelas. Dia sungguh tidak ingin lagi berurusan dengan makhluk roh. Menurutnya Emon sudah sangat buruk. Yang lebih buruk lagi seperti apa, pikirnya. Belum lagi jika hidupnya menjadi pesakitan dan tidak dapat berbuat apa-apa. Iblis adalah makhluk yang benar-benar tidak ada manfaatnya, pikirnya. Hanya dapat menyusahkan manusia. Sungguh apa yang membuat mereka bersikap sebencinya itu dengan manusia.

“Oke, aku sudah membulatkan pikiranku,” kata Patrick. “Tolong jangan pergi, Emon.”

“Oh, ya? Kenapa tiba-tiba kau ingin bercengkrama denganku lebih lama? Bukan kah kau yang selalu bilang: Ini gara-gara kau, semua hal buruk ini, huhuhu, cintaku, huhuhu hahaha, aku ingin tertawa jika mengingatnya lagi” jawab Emon menyindir Patrick.

“Bukan itu. Soal kejadian ini, Tuhan pasti memiliki rencana mengapa kita bisa berjumpa. Ada tugas yang harus kita selesaikan bersama-sama. Dan itu tidak akan terjadi kalau kau memutuskan untuk keluar dariku. Lagipula, apakah kau yakin kau bisa berhasil menghindar dari kejaran Michael? Tidak ada kepastian untukmu bukan?”

“Bisa kah kau diam? Kau membuat pikirannya bercabang tahu.” Dome menarik kerah Patrick sambil menggeram.

“Tenang Dome, sepertinya dia benar. Kejadian ini, response Michael yang berlebihan, dan segenap kekacauan yang kulakukan, sampai merasuki seorang manusia ini mungkin memiliki maksud. Aku juga ingin lebih tahu rencana apa yang Tuhan siapkan untuk ku. Lagipula aku sudah lelah berkejar-kejaran.” Kata Emon menenangkan Dome.

“Tapi, bagaimana dengan Luci, dengan bersikap seperti itu kau malah membuat masalahku runyam. Aku yang akan dikejar-kejar dan menjadi bulan-bulanan iblis pesuruhnya yang sangat jahat-jahat itu. Ah, kau tega sekali padaku.” Keluh Dome.

“Bagaimana jika kita bawa saja manusia ini ke markas,” usul Dome. “Kau tidak akan terdeteksi oleh malaikat, dan semuanya akan kembali seperti normal.”

“Ya, dahulu aku pernah memikirkan usul tersebut. Tapi aku tidak tega. Berpindah ke markas akan melewati dimensi, Patrick tidak akan selamat jika aku keluar dari tubuhnya di dimensi tersebut. Ya aku bisa saja membuat dia terbunuh, karena kupikir kenapa harus memperdulikan seorang manusia. Tapi aku teringat bahwa pada saat aku merasuki tubuhnya, Michael tidak menembakkan panah beracunnya itu, karena manusia ini istimewa dimata Tuhan.”

Dome mulai panik dan takut, dia berpikir bahwa nasibnya sekarang akan tamat karena tidak memenuhi suruhan Luci. Dia pun menawarkan usulan lain.

“Urgh, bagaimana kalau begini saja. Aku akan menghimpun banyak pasukan iblis untuk mengawalmu keluar dari manusia ini. Jadi jika kita melihat penampakan Michael kita bisa langsung menghabisinya. Kita bisa langsung pulang bukan,” usul Dome lagi.

“Apa kau gila,” bentak Emon. “Kau mau memulai perang antara Iblis dan Malaikat? Kita sedang berada dalam gencatan senjata sekarang. Perang pecah, maka akhir zaman tidak akan terbendung. Jangan berlebihan. Nasibku saat ini tidak penting, kita harus banyak mengulur waktu sebelum akhir zaman datang, sehingga lebih banyak manusia yang kita susahkan sebelum penghukuman kekal kita.”

Kali ini Emon terlihat serius, sangat berbeda dengan tingkahnya yang biasanya cengengesan menggoda Patrick.

“Lalu bagaimana denganku?” Tanya Dome pasrah.

“Hei, aku tahu orang gila yang bisa kau rasuki, Dome.” Kata Patrick. “Disitu kau bisa bersembunyi bukan?” lanjut Patrick agak berbisik. Dia tidak ingin ke-sok tahu-annya terlihat kentara. “Jadi, di dekat kantorku yang lama, ada sebuah tempat makan di pinggir jalan. Setiap kali aku makan di sana, aku selalu mendengar dia meraung-raung tidak jelas. Aku tidak paham kenapa dia seperti itu. Sepertinya dia pernah dirasuki oleh iblis atau sesuatu. Kadang aku berikan dia makanan, lalu dia hanya menangis saja, dan meraung lagi. Aku merasakan kepedihan, namun tidak bisa berbuat apa-apa,” curhat Patrick.

“Omong-omong, jika kau merasuki dia, apakah kau benar-benar aman?” Tanya Patrick lagi.

“Pada dasarnya, yang dilarang adalah merasuki orang yang jiwanya sehat. Iblis tidak dapat disentuh oleh makhluk apa pun selama dia merasuki manusia. Jika ia keluar, itu adalah karena kehendaknya. Seingatku, hanya Tuhan yang dapat mengusir iblis secara langsung. Manusia juga dapat mengusirnya dalam nama Tuhan. Makhluk seperti malaikat atau iblis lain akan sulit untuk mencari manusia yang spesifik terjangkiti. Karena kita berbeda dimensi dengan manusia. Kecuali jika diundang, maka malaikat atau iblis dapat menerima undangan tersebut.” Kata Emon menjelaskan.

“Baiklah, berarti kau bisa sembunyi pada dia, Dome,” kata Patrick agak semangat. Harapan dia untuk bersama Emon lebih lama bisa tercapai, sebab, daripada menyesuaikan diri dengan keadaan yang bisa jadi lebih parah.

“Bisakah kau diam,” kata Dome ke Patrick. Dome memalingkan mukanya, dan agak sedih dan risih. “Aku pernah berjanji dengan iblis pimpinanku yang dihisap lenyap oleh salah satu pembantu Luci, yaitu untuk tetap nurut dan menjauhi masalah. Itu lah yang membuat aku ini bisa berdiri disini sekarang. Mulai sekarang aku akan dicap pembangkang. Jika mereka menemukanku, aku tamat,” keluh Dome sambil terisak.

“Penakut, hahaha.” sindir Emon. “Sudah kau tenang saja, sampai kapan pun kau akan tetap kuanggap adikku sendiri. Bukan kah sudah lama kita tidak membuat ulah bersama-sama. Kau tidak akan apa-apa.” Emon memeluk Dome, lalu mengusap-usap palanya untuk menenangkan Dome.

“Baiklah,” sahut Dome sambil menghapus air matanya yang agak sedikit berlinang.

“Mari, aku antar!” ajak Patrick. Mereka bertiga pun terbang menuju orang gila yang dimaksud Patrick.

“Jaga dirimu, Dome” kata Emon menasihati. “Ingat, aku akan menjemputmu jika keadaan sudah memungkinkan.” Lanjutnya.

“Ya, baiklah, memang aku sudah tidak memiliki pilihan lain,” jawab Dome pasrah.

Ia pun merasuki orang gila tersebut, yang masih meraung-raung, meracau, tapi seketika ketika Dome merasukinya, orang gila tersebut tenang. Tatapannya kosong.

“Waduh, berantakan sekali disini.” Dome kaget melihat betapa kacaunya pikiran orang gila tersebut. Ini adalah pengalaman dia merasuki manusia yang pertama kali. Dia pun berusaha membersihkan tempat tersebut. Tiba-tiba ada yang memanggil dari sebuah balik meja yang jatuh dan rusak.

“Ayah, kau kah itu,” suara parau seorang anak kecil. “Sudah lama aku menunggumu, ayah.”

“Hei, hei, hentikan. Jangan coba-coba membuat aku kacau juga. Aku hanya menumpang di sini, semoga tidak lama. Sana, lanjutkan kegilaanmu.” Kata Dome jutek sambil membereskan barang-barang disekitarnya.

“Sepertinya dia sudah tenang, ayo pulang Mon! Aku sudah lelah sekali nih,” ajak Patrick.

Bersambung ke Chapter 8. It was me. This whole time.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s