Chapter 8. It was me. This whole time.

Baca chapter sebelumnya atau mulai dari awal


Satu bulan kemudian setelah perjumpaan dengan Dome.

`DOK, DOK, DOK.`

Terdengar suara pintu digedor.
“Patrick, apakah kau di rumah?” Sandy berteriak dari luar.
“Patrick, cepat buka pintunya! Atau aku…”

`CKLEK`, belum sempat Sandy menyelesaikan perkataannya, Patrick sudah membuka pintu.

“Sandy, apa kabar, senang kau mampir,” kata Patrick menyapa.

Sandy agak kesal ketika Patrick muncul tanpa ada rasa salah. “Ya senang akhirnya aku dapat bertemu denganmu,” jawabnya dengan nada sok baik. “Darimana saja kau? kau tidak pernah menelepon atau menjawab telepon dariku, bahkan kau melupakan janji bahwa kau akan mengunjungi keluargamu. Ibumu selalu menghubungiku. Sedangkan aku selalu menenangkannya dengan berkata, `Dia sedang sibuk bu`, `Dia sedang berjuang melawan kurapnya bu`, `Dia harus menempuh pekerjaan keluar kota`, dan seribu satu alasan lainnya. Lalu kau, disini, apa yang kau lakukan selama ini??” lanjut Sandy meletup-letup sampai semua unek-unek dikeluarkannya. Bisa jadi ini karena sedang siklus bulanannya juga.

“Pokoknya, aku tidak mau tahu, Sabtu ini, adikmu Martin akan merayakan kelulusannya dari SMA, dan ini adalah peringatan terakhir Pat. Jumat malam sepulang dari kantor, aku akan menjemputmu dan menyeretmu sampai kau pergi mengunjungi orang tuamu. Mengerti??” kata Sandy memberi peringatan terakhir.

“O.. Oke…” jawab Patrick gugup.
“Aku pergi,” pamit Sandy dengan sedikit membentak.

“Huahaha, kena damprat nih ye,” tawa Emon meledek.
“Mati aku, aku lupa pernah janji ingin pulang ke rumah nyokap. Lupa gara-gara ngejalanin bisnis ini,” keluh Patrick.

***

*3 minggu sebelumnya*

Patrick ingin memulai hidupnya dari awal. Setelah kerampokan yang menimpanya beberapa bulan lalu, dia tidak memiliki modal untuk melakukan lamaran pekerjaan bahkan dokumen-dokumen pentingnya juga hilang.

Hari-harinya diisi dengan berjalan-jalan ke berbagai sudut kota. Dia biasa membantu orang-orang jika membutuhkan bantuan, kalau-kalau mereka mengupahi dan dia bisa membelikan sesuap nasi. Pernah juga dia mengemis dengan trik melayang. Namun trik itu sudah tidak dilakukannya lagi karena terlalu beresiko diketahu oleh orang banyak.

Suatu ketika dia berjalan-jalan di sekitar pusat perbelanjaan.

“Hi Bu, mau aku tolongi?” kata Patrick menawari bantuan kepada seorang ibu-ibu.

“Oh boleh Mas, kebetulan aku lagi keberatan nih.” jawab ibu tadi.

“Lah, Ibu keberatan kenapa? Perasaan aku tidak ganggu-ganggu Ibu.”

“Hmm.. Memangnya ada keambiguan ya dalam aku punya perkataan. Maafkan. Maksud saya belanjaan ini yang terlalu berat. Silahkan mas kalau mau bantu. Saya siapkan upah.”

“Uwaw. Lumayan, siang ini bisa makan enak. Ku bosan selalu menyomoti makanan orang.” Kata Patrick dalam hati.
“Mari bu.”

“Bosaaaaan.” Emon tiba-tiba muncul sambil menguap.

“Aduh, lo lagi susah-susah gini malah bantuin orang. Udahlah mending hentikan waktu terus rampok wanita tua ini.” kata Emon seraya menggoda Patrick.

“Sssst.. Jangan berisik, ibu ini mau ngasih upah. Siang ini gw bisa makan siang dengan normal. Yahahai.”
`GADUBRAK,` terdengar suara gaduh disertai orang minta tolong dikejauhan.
“Ih, ngeri mas. Ada orang yang belanjaannya kena jambret di sana.” kata si ibu-ibu kengerian. “Saya sumpahi penjambretnya ga bisa pipis dengan normal.” lanjutnya.

Patrick pusing, karena si ibu mengoceh terus soal penjambret tadi. “Pokoknya ya mas, penjambret itu bla-bla-bla, sangat merugikan masyarakat was wes wos.”

Patrick bersyukur mereka akhirnya sudah sampai di tempat mobilnya terparkir. “Silahkan bu ini belanjaannya.” kata Patrick lega.
“Wah, terima kasih lho mas. Silahkan ini uangnya. Sekiranya cukup untuk beli cakwe.” kata ibu itu.
“Wow… 100 dollar. Bisa makan cakwe buat seminggu,” teriak Patrick dalam hati.
Emon keberisikan.
“Ini kebanyakan banget. Terima kasih juga lho bu.” ucap Patrick.
“Sama-sama mas. Jarang aku nemuin orang baik di kota sebesar ini. Saya bersyukur sekali Masnya ga tukang jambret kaya tadi.”
“Wah, seharusnya saya yg bilang begitu bu, justru bantuan saya tidak ada apa-apanya.” kata Patrick merendah.
“Ya wes kalo gitu, mari mas.”
Hmm.. Jadi pengen minum yang seger-seger.
“Ngge, bu” jawab Patrick.
*Kenapa kejawa-jawaan yak? Biasanye pan kebetawian kite*.

“Burger super besarnya ya mba,” kata Patrick ke pramusaji.
Setelah selesai makan siang, Patrick pun merenung. “Aku ga bisa begini terus nih. Menjadi miskin itu ga enak banget. Berasa ga berguna,dan ga berdaya. Aku pun ga tahu harus mempergunakan kemampuan ini untuk apa. Memperdaya dan menghasut orang untuk keuntungan pribadi ku? Dosa, sedangkan kemampuan yg lain terlalu mencolok. Ah, aku sungguh merasa tak berdaya.”
“Bagus sekali, refleksi hidup ketika perut terisi. Sebelumnya pikiranmu isinya hanya makanan saja.” ledek Emon.
“Sudah tidak perlu nyinyir, Mon, ini juga sambil istirahat, gw kekenyangan. Mari pikirkan strategi untuk masa depan kita. Yg penting hidup kita bebas dari rasa khawatir. Karena aku tidak ingin punya masa depan yg suram. Lalu khawatir. Lalu menggunakan kekuatan darimu ini untuk berbuat dosa.”
“Terserah padamu saja, mau kau bisa mengantarkan barang2 orang lain selamanya aku tidak peduli. Hoaaam. Aku bosan sekali. Aku ingin  membuat ulah. Aaaaaa.”
Patrick pun berpikir, berusaha mencerna omongan Emon.
“Hmmm, itu sepertinya ide bagus, Mon. Dengan kemampuan berpindah tempat aku bisa saja menjadi pengantar barang. Aku bisa secara sembunyi-sembunyi mengantarkan barang dengan perpindahan tempat dalam sekejap dan mendapatkan uang. Bukan dari hasil mengakal-akali orang atau kriminal. Terimakasih Mon, kata Patrick sambil menggendong-gendong Emon.”
“Berhenti, kau semakin membuatku kesal,” kata Emon k-z-l.

“Tapi kalo begini aku membutuhkan modal usaha, darimana aku bisa mendapatkan uang.”

“Aha, kau ingat uang pesangonku yang dicuri seorang anak waktu aku membantunya menyebrang dulu. Disana ada 7000$. Jika saja aku menyimpan uang itu sebelum diambil anak itu menurutku itu cukup. Dan juga, aku bisa menyembunyikan barang-barang dan dokumen berhargaku sebelum apartemenku waktu itu diacak-acak dan digondol maling.”

Patrick berpikir bahwa rencana itu sangat baik.

“Jadi kau ingin pergi ke masa lalu?” tanya Emon memastikan kalau-kalau apa yang dia dengar adalah yang dia benar-benar dengar.
“Ya Mon, hal itu mungkin bukan? Jika aku menyimpan apa yang hilang waktu itu, artinya aku menggagalkan orang lain berbuat kriminal terhadapku, dan aku bisa menggunakannya untuk menjadi modal usaha.” kata Patrick dengan semangat. Dia yakin benar bahwa dengan memulai bisnis baru, artinya kehidupan barunya akan dimulai, sehingga, dia bisa kembali ke masyarakat.

“Oke, baiklah. Ayo bersiap. Hari ini akan menjadi hari yang panjang.”

Patrick pun bersiap-siap. Sambil Emon memberikan aba-aba.
“Oke, bersiap-siap sekarang.” Emon berjalan mendekati sebuah pintu. Dia menggoreskan kukunya sepanjang daun pintu tersebut dan membukanya.

“Apa yang sedang kau lakukan mon,” tanya Patrick kebingungan.
“Sudah, ikuti aku saja, ini salah satu caraku membuka gerbang waktu” jawab Emon menjelaskan.
“Jadi kita bisa menjelajahi waktu dengan hanya sekadar pintu?” tanya Patrick masih kebingungan.
“Tentu tidak, kebetulan aku memiliki beberapa tema gerbang waktu lain. Lihat kau bisa pilih mode Pintu, lubang cacing, ataupun jam raksasa. Ini masalah preferensi saja. Lagi pun, kau bisa menggunakan cara berfikir manusiamu untuk merancang apa yang ingin kau lihat pada alam gaib ini.” Emon membuka salah satu pintu, dan sampai lah mereka pada tanggal yang dituju.

“Ini kah harinya,” tanya Patrick. Dia mengambil sebuah koran yang dijual dipinggir jalan. Dari tempatnya berdiri dia melihat dirinya pada masa itu sedang berlari ke dalam gedung dengan penuh keringat dan dekil.
“Hahaha, aku tidak menyangka kalau dulu kau sedekil dan semenggelikan itu,” kata Emon sambil mencibir.
Patrick pun memelototi Emon. “Ini kan gara-gara kau,” kata Patrick z-b-l.
“Woi, balikin korannya dong kalo ga mau beli, enak aja numpang baca gratis,” seru si tukang koran.
“He he, iya Pak, maaf,” kata Patrick meminta maaf.
Setelah itu dia mengendap-endap sambil menunggu dirinya keluar dari gedung.
20 menit pun berlalu. Akhirnya yang ditunggu datang juga. Patrick agak iba ketika melihat dirinya yang berlinang air mata, dipecat dari kantor yang sudah dianggapnya sebagai rumah kedua.
“Aku juga senang sekali kalau mengingat ini. Kau begitu polos sampai-sampai dikerjai oleh teman-teman kantormu sendiri,” tawa Emon.
Patrick kesal karena dulu dia dizolimi pun gara-gara Emon. Ditendangnya sebuah peti kayu pembungkus bir yang kebetulan berada di sampingnya ke arah Emon. Tapi karena Emon itu cuma berada dipikirannya saja, peti kayu itu pun terlontar ke arah dirinya yang sedang berjalan dan membuatnya tersandung. Barang bawaannya berantakan.
“Auuch,” Patrick membayangkan betapa sakit dan malu dirinya itu.

“Dimana, anak kecil sialan itu ya” kata Patrick bergumam. “Itu dia!” serunya ketika melihat anak itu berdiri di samping jalan. Hendak menyeberang. Sedangkan dirinya dimasa itu mendekati anak itu.

“Ini saatnya untuk mengambil uangku,” kata Patrick bergegas. Ia menghentikan waktu dan mendekati dirinya.

Patrick sambil membungkukkan badannya dan menatap anak itu. “Maaf sekali anak kecil, kau mungkin bisa menipu diriku yang lugu ini dengan pura-pura ingin menyeberang. Aku tidak bodoh. Aku akan mengambil uangku sebelum kau yang mengambilnya. Hahahaha.” katanya penuh gelora.

“Oke, uang pesangon itu ada di sini, oh iya, ada juga uang 2 dolar disini, dan 1 dolar disini yg diambil anak ini. Maaf ya nak, aku ga akan biarkan kamu nyolong-nyolong. Ini uang 3 dollar, semoga kamu bisa makan hari ini.” Patrick menyelipkan uang 3 dolar itu pada kantong tas kecil yang dibawa oleh anak itu.

“Sekarang aku harus kembali ke apartementku untuk mengambil barang-barang pentingku sebelum ada maling yang menggondolnya.” *ZAP* Patrick pun sampai di apartemennya.

“Mau kau kemanakan semua ini,” tanya Emon.
“Hmm, kita bisa angkut semua ke masa ku bukan?” jawab Patrick dengan naifnya.
“Kau kuat mengangkat semuanya sekaligus melalui gerbang waktu?” tantang Emon. “Lebih baik kau menyembunyikannya di tempat yang aman, kau bisa menjemputnya nanti ketika kita balik lagi ke waktu normalmu,” jelas Emon menasihati.

“AHA, sepertinya aku tahu tempat yang cocok!” seru Patrick seperti menemukan ide. “Oke, sepertinya aku tidak menemukan tempat disekitar sini yang aman.”
“Kita sembunyikan di planetku saja,” usul Emon.
“Ahhh.. ide bagus, planet CHANG-CHING-CHONG itu bukan, haha aku lupa namanya.”
“Planet Enzuariguzerhasiunos,” koreksi Emon sambil memicingkan matanya. “Sudah lama aku tidak main kesana.”

Patrick pun mulai mengemasi barang-barangnya. Tujuannya adalah agar sekali jalan semuanya bisa terangkut.

“Fiuh, capek juga. Mari kita berangkat. ” kata Patrick.
*Krucuk-krucuk* “Aduh, Mon, aku lapar sekali. Mau pingsan rasanya.” keluh Patrick.
“Kau memang harus irit tenaga. Banyak sekali energi fisik yang diperlukan untuk memanipulasi ruang dan waktu.” kata Emon memberikan saran.

1..2..3.. Emon pun menggunakan kekuatannya untuk berpindah tempat ke Planetnya.

“Selamat datang kembali, kau ingatkan tempat ini,” tanya Emon.
Dengan sekejap, Emon pun menata semua barang-barang yang ditumpuk tadi sesuai dengan letak ketika berada di apartemen.
“Apa? Kau bisa melakukannya sekejap? Kenapa kau tidak bilang dari tadi. Aku setengah mati menumpuknya satu persatu tadi.” Kata Patrick setengah teriak.

“Mana aku lapar sekali jadinya, tolong siapkan burgernya,” kata Patrick menguap setengah sadar. Matanya 5 watt sekarang.

“Makan ini,” kata Emon menyodorkan sebuah burger.

“Darimana kau dapat ini? Nyamm, enak” kata Patrick sambil melahap makanan itu.
“Aku hanya merekonstruksi burger tempe yang kau beli dulu dengan bebatuan disini. Baguslah jika kau suka.”

“Hah, bagaimana bisa?” tanya Patrick heran sambil menjilati jemarinya.

“Aku suka planet ini dan menjadikannya planet pribadiku karena struktur planetnya yang memuat unsur-unsur penyusun molekul organik.” jawab Emon. “Kau tahu bukan bahwa manusia diciptakan seturut citra dan gambar Tuhan, maka kau memiliki karunia untuk menciptakan karena Dia itu maha pencipta. Nah, dari bahan-bahan yang sudah tersedia dan kemampuan akan informasi konfigurasi saintifik, maka aku melalui kau bisa membuat apapun dari bahan baku sebongkah batu dari planet ini,” lanjutnya lagi.

“Muahahaha. Bahkan jika aku mau, aku bisa menciptakan makhluk-makhluk ciptaan ku sendiri, sehingga aku menjadi tuhan untuk mereka,” kata Emon dengan ambisius.

“Halah, ngigau kamu,” kata Patrick sambil melempar Emon dengan Pie apple.
“Huaa.. beneran jadi makanan.” kata Patrick kegirangan.
“Ayo kita bawa banyak batu pulang, dengan stok yang banyak, aku tidak perlu bekerja bukan?” lanjut Patrick.

“Tidak bisa, enak saja. Kau tidak boleh mengganggu keseimbangan ekosistem di kedua planet.” Kata Emon agak marah. “Sana, makan sampai kau merasa cukup, lalu kita balik lagi ke bumi.”

Patrick pun bersuka ria mengubah batu-batuan itu menjadi makanan sampai ia merasa kekenyangan. Dia pun berbaring pada sofanya itu. Tiba-tiba dia mengingat, bahwa sofa ini dan konfigurasi barang-barangnya itu pernah dia alami sewaktu dia pertama kali dibawa Emon ke planet ini.
“Mon, waktu itu kita pernah kesini bukan?” tanyanya. “Waktu itu aku terbangun di atas sofa ini, aku pikir itu hanya mimpi saja. Jadi selama itu barang-barangku sudah teronggok di sini toh.”
“Tunggu dulu, jadi selama ini yang aku kira merampok barang-barangku dan menyembunyikannya adalah aku sendiri?”
“Dan alasan kenapa uang pesangonku hilang, itu juga karena tadi aku yang ambil? Pantas 3 dolar yang bersembunyi itu juga hilang.” lanjut Patrick.

“Huahahaha, ternyata kau cukup bodoh sampai-sampai segitu lama kau baru menyadarinya.” tawa Emon.
“Dan jangan lupa bahwa dulu kau jatuh kesandung sampai barang-barangmu berantakan juga karena ulahmu sendiri. Hahahaha”.

“Ah, lebih baik kita kembalikan saja ini semua,” kata Patrick.
“Kau sudah terlambat, kau yang di Bumi sudah tergeletak lemas di halaman gedung apartemenmu. Aku yang merasukimu di masa itu sama dengan yang merasukimu di masa depan. Jangan heran kalau aku bisa multi task. Hihihi. Aku iblis.”

“Ya sudah, mending kita balik lagi ke masa depan.” kata Patrick dengan kesalnya.
“Kita buka gerbang waktu dari mana ya?” pikir Patrick. “Aha, dari laci mejaku saja biar serasa doraemon.”

*SREG* Patrick membuka laci mejanya dan menggariskan daerah yang dapat dilalui.
Dia pun masuk melalui meja tersebut dan kembali ke luar melalui laci mejanya tersebut.
“Tidak banyak yang berubah walaupun sudah terbengkalai sedemikian lama,” kata Patrick. Dia pun menyusun kembali barang-barangnya, sampai semuanya dapat diangkut sekali jalan. Kali ini dia melakukannya tanpa berusaha untuk mengangkatnya satu per satu. Tampaknya dia makin terbiasa dengan hal-hal yang dapat dilakukannya dengan kemampuannya itu.
“Semua sudah siap, ayo kembali ke apartemenku,” seru Patrick lega. Kali ini dia yakin kehidupannya akan kembali normal.

*ZAP* Dalam satu jentikan jari Patrick kembali ke apartemennya sambil membawa tumpukkan barang-barangnya.

“Hei, berjanjilah kita akan kembali ke planetku sekadar untuk berkunjung, sebagai gantinya aku akan bersikap baik.”

“Ya, ya, ya. Bukan masalah,” jawab Patrick sambil sibuk menyusun barang-barang diapartemennya kian kemari.

***

Dengan dana yang ia miliki, Patrick membangun sebuah situs yang dapat melayani pengiriman barang secara dalam jaringan. Sedangkan dia mencetak banyak sekali pamflet untuk promosi ke dalam kantor-kantor. Dia melakukannya secara sembunyi-sembunyi dengan kekuatan yang dia miliki.

Pekerjaannya cukup mudah, dia cukup menjemput barangnya, menaruhnya di tempat yang aman. Agar orang-orang tidak curiga kenapa dia bisa mengantarkannya dalam waktu yang cepat, dia menjadwalkan waktu pengiriman untuk setiap barang-barangnya.

Patrick disibuki dengan banyak pesanan dari hari ke hari. Tidak heran dia akhirnya melupakan janji-janjinya. Termasuk untuk mengunjungi keluarganya. Dasar pelupa, untung Sandy ingatkan.

Bersambung ke Chapter 9. Awkward Trip

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s