Chapter 9. Awkward Trip

Baca chapter sebelumnya, atau mulai dari awal


 

“Apakah kamu benar-benar ingin menunggu Sandy? Kita bisa tinggal berpindah tempat saja bukan?” tanya Emon.

“Dia sudah berjanji menjemputku, mana mungkin kita duluan. Lagipula kali ini aku ingin menikmati perjalanan bersama dia. Itu membuatku merasa seperti manusia.” Jawab Patrick sambil mengikat tali sepatunya.

“Aku rindu menjalani kehidupan seperti ini. Sedikit lebih baik dari masa-masa aku belum kena tulah. Aku seperti orang yang sangat berbahagia.” Lega Patrick sambil berdiri dan membetulkan kemeja yang lecek ketika dia jongkok tadi.

 “Jomblowan yang berbahagia. HaHa,” cibir Emon.

`Dinnn, diiinn.` Terdengar suara klakson berbunyi.

 “Nah, itu dia sudah datang. Mari kita berangKATT.” Kata Patrick dengan semangat.

Patrick pun berjalan mendekati mobil Sandy, dia berusaha memecahkan suasana. “Ah, ha, lihat siapa yang terlambat… 1 menit 13 detik,” ledeknya menggoda Sandy sambil melihat arloji yang dikenakannya.

 “Selamat malam Mr. Patrick,” seru seseorang yang suaranya seperti dia kenal.

“Whaaa…!!! What? Robert, apa yang kau lakukan di sini?” tanya Patrick kaget. “Aku kira kita berangkat berdua saja, Sandy.” lanjutnya.

“Maaf, karena aku, Sandy ‘terlambat’ menjemputmu. Aku hanya tidak bisa membiarkan seorang perempuan mengemudi sendirian. Karena, kau tahu lah perjalanan ke luar kota sangat berbahaya. Jadi, aku di sini sekarang.” kata Robert menjelaskan perihal keikutsertaannya.
Patrick merasa aneh dengan penjelasan Robert. “Apakah maksudnya aku menyusahkan Sandy dan membiarkan diriku dilayani oleh seorang perempuan. Apakah memang itu tidak pantas dilakukan.” pikirnya dalam hati.
“Tidak perlu gusar, Pat. Bukan kah perjalanan akan ramai jika lebih banyak orang yang ikut.” Kata Sandy menenangkan Patrick.
“Benarkah? Kalo begitu biar aku panggil pak Satpam penjaga apartemen untuk ikut. Pak… Oi Pak Satpam.. Ayo ikut Pak!!” Seru Patrick meledek alasan Sandy tadi.
“Sudah, sudah. Ayo cepat taruh barang-barangmu di bagasi dan masuk. Kau membuatku  kesal tahu,” kata Sandy mengepalkan tangannya. Patrick selalu berhasil memancing emosinya.
“Baik, bu.” Melihat gerik yang dihapalnya, Patrick pun ciut dan menaruh barang-barangnya di bagasi.
“Semoga perjalanannya menyenangkan.. Awkwarrrdd..” Bisik Emon meledek. “Bangunkan aku kalau sudah sampai ya, aku mau istirahat di bagasi.” Lanjut Emon.

“Semua sudah siap dan berdoa sesuai kepercayaan masing-masing? Kalo begitu mari kita mulai perjalanannya.” Seru Robert memecahkan suasana. Perjalanan mereka pun dimulai.

 Selama 30 menit perjalanan, tidak ada suara di dalam mobil.

“KRIIKK… KRIKK… KRIIKKK..”

 “Hei, mobil ini jorok sekali, sampai-sampai ada jangkrik segala,” kata Patrick. Dia menemukan jangkriknya dan melemparnya keluar mobil.

“Jadi, bagaimana kondisimu sekarang Patrick? Apa aktifitasmu sehari-hari?” Tanya Robert basa-basi.

“Tidak pernah merasa lebih baik lagi. Sekarang aku karyawan pengantar barang,” jawab Patrick. “Mungkin kau butuh barang untuk diantar suatu hari. Aku bisa menolongmu.” lanjutnya sambil menyodorkan kartu nama.
“Ngik-ngik Express? Hahaha… Aku baru pertama kali mendengar nama jasa pengantar barang ini.” tawa Robert.
“Kenapa? Apakah ada yang mengganggumu?” tanya Patrick penasaran. Omong-omong, dia memang sengaja membuat orang terbahak ketika mendengarkan nama jasanya pertama kali. Itung-itung branding.
“Agak sedikit konyol sih namanya.  Oh iya, mungkin perusahaanmu membutuhkan iklan, kami bisa membantu.” Balas Robert dengan basa-basi ala dunia bisnis.

“Ya, kau benar. Perusahaan ku mungkin membutuhkannya,” jawab Patrick.

 “Jadi, kalian berdua adalah sahabat sejak lama. Bagaimana kalian bisa bertemu?” tanya Robert mengganti topik. Sepertinya pertanyaan ini bukan basa-basi. Sebab memang ada unsur kepo di dalamnya.
“Hei, ingat. Kami bukan sahabatan dari dulu. 3 tahun temenan, 5 tahun pacaran dan baru sekitar 1 tahun lebih sahabatan.” teriak Patrick tersinggung dalam hati.

`PLAK` “Iya, gw tahu,” kata Emon kesal sambil getok pala Patrick. Sepertinya gumaman Patrick mengganggu istirahat Emon.

“Well, kami dulu teman satu kampus dan ketemunya gitu aja,” jawab Sandy ngebut.
“Aku pertama kali ngeliat dia sebagai cewe yg aneh. Waktu itu tahun ajaran belum dimulai, tetapi ada kegiatan kampus kepada mahasiswa baru untuk pembekalan. Kesempatan itu kami manfaatkan untuk mengakrabkan diri dengan satu sama lain. Karena aku merasa dia tidak menarik, akupun sama sekali tidak sungkan untuk mengajaknya makan siang bersama, mengirim permintaan permainan bersama di jejaring sosial,  dan awal tahun kedua aku mengungkapkan perasaanku kepadanya. Namun dia menjawab tidak. Aku tidak menyerah begitu saja. Kami pelayanan di kampus bersama, saling mendoakan, dan berbagi bahan pembicaraan yg sama. Walaupun aku tidak tertarik dengan lagu dan serial kesukaannya, aku sempatkan untuk mendengar atau menonton. Apapun kulakukan agar kami punya bahan pembicaraan.
Tahun ketiga angkatan kami mengadakan perjalanan liburan. Disitu aku memintanya menjadi pacarku. Dan dia mengatakan ya. Aku sangat bahagia pada waktu itu. Dan sampai sekarang aku bersyukur kepada Tuhan karena aku pernah memilikinya.”
“Ngapain dah menggumam panjang lebar gitu?” potong Emon sambil memicingkan matanya.
*B Y A R R*
Muka Patrick memerah, omongan yang tadi ternyata cuma di bayangannya saja.
“Haha, aku ingat dulu Sandy pakai kawat gigi, kau pernah melihat fotonya tidak?” tanya Patrick mencoba mengungkit masa lalu yang cukup tidak sensitif.
“Wow, benarkah? Tidak heran senyumannya sekarang begitu indah,” puji Robert.
“Haha, bukan aku saja yang aneh, kau sendiri pun dulu kurus kering seperti papan penggilasan kan. Dulu aku pernah berpikir, apakah uang bulananmu telat lagi.” Balas Sandy mengungkin masa lalu yang agak cukup sensitif.
“Kerjaanku dulu kan memang belajar terus jadi jarang makan dan berolahraga,” kilah Patrick.
“Ya ya, dasar kutu buku,” canda Sandy.
“Omong-omong bagaimana dengan kabar geng kalian Sandy?” tanya Patrick.
“Oh, kami baru ketemuan 3 minggu lalu,” jawab Sandy.
“Pertemanan kalian memang sangat khas sekali di antara satu angkatan. Ngobrolin apa saja kalian? Pasti ngomongin aku.”
“Geer kamu, hahaha. Kita ngobrol banyak, dari merk popok anak-anak yang paling bagus, katalog belanjaan termurah, daster paling nyaman… Oke, kuakui obrolan kemarin terlalu emak-emak buat aku.” Keluh Sandy.
“Iya, memang mereka kepo-kepoin aku, tapi itu di luar topik pembicaraan sekarang okey.” lanjut Sandy sambil masang tatapan —rahasia cewek, jangan coba dikorek.
“Sebenarnya aku gak perlu kepo sih, aku kan bisa baca pikiran kamu kalo aku mau,” kata Patrick dalam hati.
“Seru ya,” potong Robert.
“Haha, roaming ya pembicaraannya. Maaf ya,” kata Patrick dengan ala-ala maaf-ga-maafnya.
“Jadi kalian pacaran selama 5 tahun dan putus begitu saja? Itu sedikit aneh, apakah tidak apa jika aku bertanya alasannya.” tanya Robert kepo banggets.
“Jadi gini, kalian itu udah putus. Tapi… aku tidak habis pikir dengan keakraban kalian, bahkan Sandy mau saja repot-repot mengantarkanmu ke rumah keluargamu,” lanjut Robert menjelaskan maksud dari pertanyaannya.
“Itu personal, Robert. Bisa kah kita tidak mengungkit ini lagi,” mohon Sandy.
“Aku berbuat kesalahan yang fatal. Aku selingkuh,” ungkap Patrick. Wajahnya sedikit menunduk dan air mukanya berubah padam.
“Apakah kau bisa menghentikan mobil ini sekarang, aku akan turun disini.” pinta Patrick. Mengingat-ingat kejadian itu menghancurkan mood baik yang dia dapatkan semenjak 4 bulan terakhir.
Patrick mengambil barang-barangnya dari bagasi.
“Patrick, tolonglah. Kembali naik atau kita punya masalah besar.” bujuk Sandy.
“Mulai besok kau tidak perlu perhatikan aku lagi Sandy. Silahkan kalian berdua kembali ke kota. Aku bisa pulang sendiri.” Patrick pun berjalan menggeret barang bawaannya menjauh.
“Patriiickk.” Teriak Sandy sambil keluar dari mobil.
Patrick sudah tidak kelihatan.
“Waw, tiba-tiba suasananya jadi tegang sekali.” kata Robert sambil masang muka ga bersalah.
“Robert, tolong lah. Patrick adalah pria yang memiliki prinsip hidup yang teguh. Kalau kau mengingatkan dia dengan kesalahannya, dia menjadi sangat terpukul tahu.” kata Sandy.
“Ayolah, semua orang pernah berbuat salah. Apa salahnya kalau sekali dua kali selingkuh. Selama belum ada jalur kuning kan kita harus puas-puasin khilaf. Dia saja yang lebai.” bela Robert.
“Jadi, kita cari dia dan bujuk untuk naik, atau balik ke kota. Dia sudah besar lagi pula.” lanjut Robert.
“Aku tidak akan mengkhawatirkan dia lagi. Ini sudah 1/4 perjalanan. Kita lanjut ke rumah orang tuanya,” kata Sandy.
“Tanpa Patrick? Apakah menurutmu ini benar-benar perlu?” tanya Robert memastikan.
“Iya, aku perlu mengumumkan sesuatu dengan pihak keluarganya.” kata Sandy serius.
“Baiklah kalau begitu. Omong-omong Sandy, Aku ingin mengatakan sesuatu.” ujar Robert.
“Apa?”
“Ngik-ngik Express, berangkaaatt,” ledek Robert.
“Hahaha. Kau kasar sekali,” tawa Sandy.
“Ngik.. ngikk..”, ledek Robert lagi.
“Sudah hentikan.”
Mobil pun melaju.
***
“Kenapa sih baper tiba-tiba?” tanya Emon sebal. Mereka berdua melayang di udara.
“Ketika ada yang bertanya alasan kenapa kami putus, aku tidak bisa melupakan bayangan buruk ketika Sandy memergokiku melakukan *sensor* dengan wanita lain,” jawab Patrick. “Sesuatu merasuki otakku dan dorongan biologis yang begitu hebat membuatku melakukan hal yang sama sekali tidak bisa dimaafkan bahkan oleh ku sendiri.”
“Sudah lah, itu masalah lu kan”. Kata Emon menenangkan.
“Masa lalu kali,” kata Patrick mengoreksi. “Tapi ini emang  masalah gue sih, wkwkwkwk”.
Penulis pun di karantina oleh Polisi Bahasa Indonesia dengan dakwaan penggunaan ‘wkwkwk’ dalam sebuah literatur yang katanya novel.
 
“Malam masih panjang. Jika berpindah tempat langsung ke rumah ibu, aku pasti dicurigai, lebih baik aku istirahat di tempat lain dulu, lalu besok tinggal berpindah saja. Ada rekomendasi tempat kah, Mon? Tolong jangan merekomendasikan planet mu. Aku ingin bersama dengan manusia malam ini.” kata Patrick.
“Sudah, kau tidur di apartemenmu saja sanah.” kata Emon tidak mau repot.
“Bali. Ide bagus, tapi di sana sedang siang sekarang. Hmm… berselancar sejenak boleh juga.” seru Patrick tidak menghiraukan.
“Dasar manusia, selalu basa-basi. Ga usah nanya kalau kamu dari awal memang tidak peduli sama pendapat ku.” Kata Emon k-z-l. “Omong-omong. Kau menyadari tidak, Sandy tadi mengatakan sesuatu padamu lewat sanubarinya.”
“Hmm, tidak. Aku kurang peka dengan apa yang ada di hati orang lain. Memang apa yang ingin dia katakan.” Tanya Patrick penasaran.
“Ngik.. ngikk.. Hahaha.” Canda Emon.
“Sitahik,” kesal Patrick.
*To be continue*
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s